Prigi Arisandi : Mendidik Para Detektif Kali Surabaya

training detektif Kali Surabaya generasi keenam

training detektif Kali Surabaya generasi keenam

Mandi di sungai itu sebuah hal yang menarik dan mahal. Bagi saya dulu 15 tahun yang lalu, mandi di sungai merupakan hal yang biasa dan keharusan. Tapi sekarang bagi anak2 untuk bisa mandi di air bebas itu mahal karena disini airnya sudah kotor dan tercemar dan sudah tidak layak.

Saudara, itulah jawaban Prigi Arisandi, direktur eksekutif LSM Ecoton, sebuah lembaga yang bergerak di bidang pemeliharaan lingkungan air, tentang mengapa pada awalnya ia secara pribadi tergerak untuk menciptakan program yang melibatkan anak-anak untuk memantau dan menjaga kelestarian sungai.

Bagi Prigi, kenikmatan mandi di sungai yang tidak bisa dirasakan oleh anak-anak di masa kini, merupakan sebuah ketidakadilan. Sungai yang dulu jernih kini sudah berubah fungsi menjadi tempat pembuangan limbah cair, sehingga kotor dan tercemar. Ini adalah sebuah kesalahan pengelolaan dari lembaga-lembaga yang terkait, dan menurutnya hal ini harus diluruskan. Itu lah alasan mengapa Prigi Arisandi dan teman-teman dari Ecoton akhirnya merintis program Detektif Kali Surabaya.

Ide Detektif Kali Surabaya ini diawali karena anak merupakan korban atau makhluk yang paling rentan terhadap pencemaran yang terjadi di Kali Surabaya. Kami ini ada di Kali Surabaya dimana Kali Surabaya ini menjadi tempat pembuangan limbah bagi 800 industri di sepanjang Kali Surabaya. Industri ini telah memberikan efek yang sangat mengkhawatirkan karena air Kali Surabaya yang menjadi bahan baku air minum bagi 2 juta orang Surabaya ini juga tercemar oleh Merkuri dan zat-zat kimia lainnya.

Pencemaran ini, -dari data yang ada- menurut Prigi Arisandi, telah menimbulkan dampak yang serius. 80% anak-anak yang tinggal di sepanjang Kali Surabaya mengalami gejala pelambatan penangkapan dalam belajar.
Penelitian lain menunjukkan, bahwa kurang lebih 60% anak-anak usia 0 hingga 18 tahun yang menderita kanker, tinggal di sepanjang Sungai Brantas dan kali Surabaya. Hal ini membuktikan, bahwa pencemaran Kali Surabaya membawa dampak yang serius pada anak-anak –terutama mereka yang dalam masa pertumbuhan-.

Sehingga anak2 juga harus ikut serta mulai sekarang untuk menjaga lingkungannya, karena lingkungan yang ke depan itu adalah lingkungan yang mereka tinggali. Jadi sejak awal mereka harus ikut berperan aktif dalam memberikan keputusan atau memberikan solusi atau ikut serta dalam pengelolaan lingkungan untuk menghindari pencemaran yang lebih parah ke depan.

Saudara, Program Detektif Kali Surabaya ini dimulai sejak tahun 2003, melibatkan 7 sekolah di sepanjang Kali Surabaya, yang meliputi wilayah Mojokerto, Sidoarjo, Gresik dan Surabaya. Sampai 4 tahun berjalan, program ini sudah berhasil mengajak 24 sekolah untuk terlibat aktif dalam kegiatan pemantauan kualitas lingkungan di Kali Surabaya. Jumlah anak-anak yang berpartisipasi juga sudah mencapai 2000 orang, satu pencapaian yang dapat dikatakan cukup berhasil.

Bagaimanakah cara Prigi Arisandi mengajak anak-anak ini untuk menjadi detektif kali?

Detektif Lingkungan ini adalah sebuah training dengan pendekatan child to child, ke anak selama 6 bulan. Jadi selama 6 bulan ini kita merekrut 30 orang anak dari 10 sekolah, dan ini selalu 10 sekolah yang lokasi 10 sekolah ini berbeda dari hulu ke hilir. Jadi mewakili 3 lokasi yang berbeda, kawasan hulu, tengah dan hilir. Dari 10 ini nantinya kita akan melakukan training untuk melihat di lokasi yang terjadi pencemaran di daerah hilir dan lokasi yang menjadi sumber mata air Kali Surabaya di daerah Trawas. Kemudian mereka akan memberikan ekspresi yang mereka lihat, atau mereka melakukan apresiasi berupa hasil investigasi berupa poster, reportase, foto yang mereka diskusikan.

Dari hasil pantauan itulah, selama 3 hari selanjutnya, anak-anak itu dilibatkan dalam sebuah bengkel kerja, dimana dalam bengkel kerja ini, mereka membuat rencana dimana mereka akan melakukan pemantauan dan laporan di lokasi dimana mereka tinggal.

Prigi sengaja membagi anak-anak ini ke dalam 3 kelompok, berdasarkan lokasi tempat tinggal mereka. Anak-anak yang tinggal di hulu yang airnya masih jernih akan menceritakan, jika di wilayahnya masih banyak keanekaragaman hayati yang mereka jumpai, seperti serangga dan mahluk invertebrate lainnya. Termasuk juga tumbuh-tumbuhan sungai. Ini sangat kontras dengan anak-anak yang tinggal di daerah hilir, dimana di wilayah tersebut, air sungainya sudah tercemar.

Dari hasil berbagi pengalaman itu, kemudian, anak-anak tersebut lalu membuat sebuah rencana untuk melakukan perubahan yang positif demi kelangsungan hidup Kali Surabaya.

Anak2 inilah yang nanti akan membuat perubahan. Dari hasil investigasi mereka, mereka melaporkan pada walikota, bupati, DPRD, guru2 mereka dan terpenting, mereka aktif melaporkan ini di media massa. Sehingga beberapa kali teman2 ini mendapat tanggapan dari pihak eksekutif atau pemerintah kota, bahkan sempat Ketua DPRD melakukan hearing dengan teman2 dalam isu ini, dan akhirnya mereka membuat sebuah riset penelitian di Kali Surabaya.

Program yang dirintis Prigi Arisandi dan teman-teman dari Ecoton ini ternyata mendapat sambutan hangat dari anak-anak dan juga orang tua serta guru mereka di sekolah. Dari pelibatan anak-anak ini menjadi detektif, Prigi menceritakan, sudah banyak hasil yang bisa dirasakan.

Banyak perubahan yang telah kita buat yaitu beberapa pengelolaan yang lebih partisipatif di beberapa daerah kawasan industri di Sidorejo, di situ sudah ada terbentuk komunitas masyarakat yang menjadikan Kali Tengah yang di situ ada anak yang dilibatkan dalam hal pemantauan. Kemudian di tingkatan sekolah, beberapa sekolah sudah membuat kelompok studi pemerhati sungai, waterwatch untuk kawasan Kali Surabaya

Beberapa anak pun telah membuat buku panduan tentang tumbuhan obat yang dapat ditemukan di Kali Surabaya, termasuk juga panduan tentang serangga dan mahluk invertebrate yang masih ditemukan di Kali tersebut.

Dan yang penting tanggal 29 Juli 2007 akan digelar konferensi anak Kali Surabaya, disitu berkumpul semua anak yang telah membuat karya dan membuat catatan reportase yang nanti akan dipresentasikan dan nanti akan mengundang gubernur dan walikota yang ada di sepanjang Kali Surabaya untuk mendengarkan dan berbagi pengalaman bagaimana hasil reportase dan apresiasi anak terhadap kondisi lingkungan Kali Surabaya yang ada sekarang.

Prigi Arisandi, yang merintis program Detektif Kali Surabaya, yang mengajak anak-anak untuk turut serta mengawasi dan memelihara kelestarian Kali Surabaya.

Saudara, selama 4 tahun terakhir bekerja bersama anak-anak, Prigi mendapati bahwa mereka sangat kritis dan memiliki ide-ide segar yang sangat mungkin untuk diterapkan dan diwujudkan.

Anak2 kita ini sebenarnya lebih segar, lebih banyak memiliki solusi2 alternatif yang masuk akal dibanding program2 pemerintah yang menghabiskan banyak uang. Banyak sekali pemikiran2 anak yang cerdas, selama ini memang tidak ada forum atau wadah yang menyalurkan pemikiran anak ini. Selama ini pendidikan sekolah yang diberikan ke anak ini sangat mengkungkung mereka bahkan di program ini sebenarnya bisa melepaskan itu, jadi melepaskan potensi2 pemikiran yang lebih segar dan cerdas. Kita jadi lebih tau potensi anak dari program pendidikan lingkungan ini.

Prigi Arisandi menceritakan, saat ini sudah diadakan sebuah program rutin untuk membersihkan dan mempercantik WC Umum yang ada di sepanjang Kali Surabaya. Bahkan salah satu sekolah mengadopsi satu kampung yang ada di tepian sungai untuk memperbaiki WC umum, dan tempat pembuangan sampah, dengan harapan, dengan WC yang bersih dan tempat pembuangan sampah yang tertata rapi maka masyarakat desa tersebut lebih memilih untuk menggunakan sarana tersebut, daripada membuang limbahnya di sungai.

Selama ini orang lebih suka membuang hajatnya di sungai langsung, tapi kalau diberi sentuhan warna pink, diberi hiasan, WC itu akan lebih menarik dan masyarakat lebih suka untuk memakai jamban yang dibersihkan oleh anak2 ini.

Selain itu, anak-anak tersebut juga mulai mengeksplorasi tumbuhan obat yang ada di Kali Surabaya, yang memang sejak dulu sudah dimanfaatkan oleh masyarakat yang ada di sekitarnya. Tanaman obat yang tumbuh di sungai itu memiliki keterikatan langsung dengan masyarakat di sekelilingnya, dan anak-anak itu memiliki ide untuk memperbaharui dan melestarikannya.

Semua solusi ini, menurut Prigi Arisandi, berawal dari pemikiran yang sederhana, “Tak Kenal maka Tak sayang”

Menurut mereka, mungkin saja orang2 ini tidak sayang dengan sungai karena tidak kenal. Jadi menurut mereka masyarakat yang tinggal di bantaran Kali Surabaya itu tidak mencintai kali tersebut karena tidak kenal potensi apa yang ada di Kali Surabaya itu. Oleh karena itu, setengah tahun ini teman2 di kurang lebih 6 sekolah ini akan mengeksplor potensi apa yang ada di Kali Surabaya dan nanti di Bulan Juli akan diumumkan, jangan dilukai Kali Surabaya, karena kali Surabaya itu menyimpan potensi penting bagi manusia. Kalau kita merusak sungai sama saja dengan merusak kehidupan ke depan, dan anak2 itu yang kena dampaknya.

Saudara, meskipun sudah berhasil mengumpulkan lebih dari 2000an anak dan mengajak serta 24 sekolah di wilayah Mojokerto, Sidoarjo, Gresik dan Surabaya, namun Prigi Arisandi merasa kesemuanya ini baru langkah awal. Ke depannya akan ada rencana yang lebih menyeluruh untuk menyelamatkan Kali Surabaya.

Selama kurang lebih 4 tahun ini kita hanya berfokus pada 41 kilometer Kali Surabaya, padahal Kali Surabaya ini adalah sebuah kesatuan DAS Brantas yang panjangnya 400 kilometer yang meliputi 14 kota kabupaten, dan ini memang seharusnya menjadi satu kesatuan ekosistem yang menjadi satu roh yang selama ini memang kita masih fokus di Kali Surabaya. Ke depan kita akan lebih melebarkan lagi ke kawasan Brantas yang meliputi 14 kota kabupaten.

Memperjuangkan kelestarian lingkungan ditengah pelbagai kepentingan pembangunan, ekonomi dan industrialisasi, merupakan hal yang sulit dan berat, namun harus dijalankan. Banyak pihak yang pesimis apakah program penyelamatan lingkungan seperti yang dilakukan Prigi Arisandi dan teman-temannya ini bisa berhasil, tapi menurut Prigi, kita tak bisa diam saja, karena perusakan akan terus berlanjut. Harus ada upaya yang tetap dijalankan.

Sebenarnya kalau kita bicara lingkungan, banyak pengalaman di banyak negara, harus ada korban kematian ribuan orang baru kemudian masyarakat sadar. Harapan kami di Surabaya tidak seperti itu, harapan kami perubahan itu terjadi secara sadar dan sepertinya juga lama, perlu perjuangan dan kesabaran yang tinggi untuk bisa meraih cita2 ini.

Prigi Arisandi, dari Ecoton, perintis program Detektif Kali Surabaya, program penyelamatan lingkungan yang melibatkan anak-anak untuk mengawasi dan menjaga kelestarian lingkungan air.

+++

Saudara, demikianlah Inspirasi kali ini. Semoga profil yang kami sajikan tadi dapat memberikan inspirasi kepada anda, bahwa sekecil apa pun usaha yang anda lakukan, bisa memiliki dampak yang besar bahkan bermanfaat bagi orang yang ada di sekitar anda.

Sekian Inspirasi.
(efika @ mediacorp.com.sg)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: