Ikan-ikan Pun Bergelimpangan…

Ratusan –mungkin juga lebih dari seribu—warga Surabaya panen ikan, Minggu (25/4). Kalimas mulai dari Gunungsari hingga Keputran dipenuhi warga yang menceburkan diri ke kali. Bukan hanya warga yang berumah di tepi sungai, para pengendara sepeda motor yang kebetulan melintas pun berhenti. Mereka ikut larut dalam kemeriahan itu.

Dengan alat seadanya, sebagian memutus ranting pepohonan di tepi sungai, mereka berdiri di tepi sungai. Mata mereka waspada. Kala ada ikan yang terapung setengah sadar, sekelebat “pentungan“ mereka kibaskan.

Sebagian warga yang lain lebih total. Mereka nyemplung ke sungai. Sebagian lagi berbekal serok dan jala. Kelompok ini mendapat hasil lebih banyak.

“Ini pasti kena limbah,” kata Yudi.

Pria ini begitu bersemangat menangkapi ikan mabuk di Kalimas Jl. Raya Ngagel.

“Airnya saja pahit. Lebih pahit dari air kolam yang mengandung kaporit,” lanjutnya.

Menurut Yudi yang sering menjala ikan di Kalimas, fenomena ikan mabuk bukan sekali itu saja. “Sering saya lihat yang seperti ini. Tapi pemerintah tampaknya tidak pernah peduli. Mereka biarkan sungai tercemar. Yang makan ikan beginian paling orang kecil. Kalau ini mengandung racun, ya orang kecillah yang lebih dulu mati,“ kata pria asal Sepanjang ini.

Menurut Ptigi Arisandi dari Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecological Observation and Wetlands Conservation, Ecoton), kecurigaan masyarakat seperti dikatakan Yudi tidak aneh. Sebab,s elama ini limbah pabrik memang sering dibuang seenaknya ke sungai. Namun dalam peristiwa kemarin, Ecoton tidak menemukan tanda-tanda ikan mati karena limbah.

“Kami ukur, total dissolved solid (TDS, total padatan terlarut) rendah, hanya 200 ppm. Padahal, biasanya kalau sungai tercemar limbah, DTS-nya tinggi, bisa di atas 1000 ppm,” kata Prigi, Senin (26/10).

Meski demikian, Ecoton menemukan data lain. Dissolved oxygen atau oksigen terlarut dalam air sangat rendah, hanya 0,5 mg/liter. Padahal, normalnya, oksigen dalam air mencapai 4 mg/liter.

“Sangat mungkin ikan-ikan itu mati karena rendahnya kadar oksigen tersebut,” kata Prigi.

Mengapa kadar oksigen di Kalimas sangat rendah?

Analisis sebagian pihak, ini akibat sampingan dari penggelontoran Kalimas di kawasan Gunungsari dengan air dalam jumlah besar. Tujuannya, menggelontor eceng gondok hingga ke laut.

“Penggelontoran air dalam jumlah besar membuat mudal. Partikel dasar sungai terangkat ke atas, ini yang menyebabkan kandungan oksigen dalam air menjadi rendah,“ kata Prigi. “Mestinya ada manajemen yang lebih baik hingga upaya seperti penggelontoran tidak merusak habitat,“ lanjutnya.

Sementara Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Jatim, Dewi J. Putriatni mengatakan kepastikan penyebab banyaknya ikan mabuk di Kalimas, Minggu (25/10) lalu belum bisa memastikan. Sebab, untuk mengetahui penyebab yang sebenarnya harus dilakukan penelitian lebih dahulu.

”Kami tidak bisa langsung memastikan penyebabnya dengan menunjuk salah satu industri yang telah membuang limbah. Penyebabnya harus dicari dan dibuktikan melalui penelitian,” kata Dewi, Senin (26/10).

Dewi menjelaskan menurunkan kadar oksigen di dalam air, bisa karena maintenance kali dengan cara mengeruk sedimen Kali Surabaya. Dengan dikeruknya sedimen tersebut, akan menyebabkan air kali menjadi keruh dan berkurangnya kadar oksigen dalam air. Selain akibat pengerukan, berkurangnya oksigen juga bisa terjadi karena adanya perusahaan yang mendadak membuang limbah ke sungai dalam jumlah besar hingga menyebabkan terjadinya penurunan kadar oksigen.

”Untuk itu, kami tidak boleh asal menuduh tanpa melalui proses penelitian lebih dahulu,” katanya.

Namun, sambung Dewi, kejadian ikan mabuk di Kalimas sudah sering terjadi. Kemungkinan penyebabnya antara pengerkan dan pembuangan limbah dalam jumlah besar.

”Biasanya bila ada ikan yang mati dalam jumlah besar justru tidak berbahaya karena ikan-ikan itu mati akibat kurangnya kadar oksigen,” katanya.

Sebaliknya, bila ada zat yang berbahaya, maka ikan tersebut tidak akan langsung dan dalam jumlah yang banyak. “Matinya alama dan sedikit-sedikit,” katanya. spd,

Leave a comment »

4 GAGASAN UNTUK BRANTAS

Mata Pelajaran Sungai

Ribuan orang mati akibat Minamata disease di Kota Minamata Propinsi Kumamoto telah membuka mata Pemerintah Jepang untuk melakukan diet Polusi dengan mengeluarkan regulasi pengketatan pembuangan limbah cair ke sungai, kegiatan ini diikuti dengan rehabilitasi kualitas air di sungai-sungai penting, dalam waktu 20 tahun beberapa sungai sudah pulih kembali dan mendukung kehidupan manusia seperti perikanan dan bahan baku air minum. Dibalik itu ternyata pemerintah juga menerapkan pelajaran tentang Polusi di Sekolah-sekolah Dasar dan Menengah, tujuannya untuk mengenalkan lebih dini tentang masalah lingkungan dan pencemaran akibat aktivitas manusia.

DAS Brantas adalah DAS Vital bagi Jatim karena 60% penduduk Jatim tinggal di DAS Brantas, kebudayaan dan peradaban yang dilahirkan oleh kerajaan-kerajaan besar Seperti Kadiri, Singosari dan Mojopahit dibangun di DAS Brantas. Air Adalah Kehidupan Sungai adalah peradaban, beradapnya sebuah bangsa dapat dilihat dari system pengelolaan  sungainya. Sebagai sebuah bangsa yang ingin mandiri dan sadar betul akan potensi sumberdaya alamnya maka memberi pelajaran tentang sungai pada anak-anak bangsa adalah sebuah keharusan. Mata Pelajaran tentang Sungai adalah bidang studi yang monolitik yang mengenalkan pada anak didik potensi sungai dan pengelolaan yang baik agar sungai dapat memberikan kemaslahatan pada umat manusia.

Kita tidak perlu khawatir kalo materi sungai sangat terbatas sebab apabila kita bicara sungai akan sangat terkait dengan air didalamnya tidak bias tidak kita akan membahas masalah siklus air, bagaimana hutan bekerja menjaga keberlansungan air, pengolahan sampah dibutuhkan agar sampah tidak mengapung di sungai, perilaku green life style masyarakat urban menjadi bagian dari mata pelajaran sungai karena tingginya konsumsi masyarakat urban berkorelasi dengan laju kerusakan hutan di hulu.

Orang tidak akan mau memikirkan sungai karena sejak kecil orang tidak mendapatkan pelajaran tentang sungai, kita baru kenal dengan sungai saat kita membaca atau mendengar berita tentang banjir banding, pencemaran air sungai atau pembuangan Lumpur lapindo ke kali Porong  sehingga sering kita terlambat untuk mengetahui akibat buruk kegiatan kita pada sungai.

Badan Pengelolaan DAS Brantas

Pemerintah Propinsi Jatim harus memfasilitasi lahirnya dan implementasi Konsorsium Brantas yang terdiri dari 13 Bupati/Walikota di DAS Brantas untuk menyusun peruntukan dan pengelolaan Sungai Brantas dalam menjaga kelestarian dan kesinambungan fungsi ekologis dan tekanan aktivitas manusia yang menyebabkan degradasi kualitas ekologis Sungai Brantas.

Salah satu fungsi penting Konsorsium ini adalah solusi pencemaran Sungai Brantas yang umumnya dirasakan dampaknya oleh daerah Hilir yang sumberpencemarannya berasal dari wilayah Hulu.  Penataan ruang dan peruntukkan sungai.

Pekerjaan besar untuk menyelamatkan sungai-sungai di Jawa Timur adalah menetapkan kembali kelas/peruntukkan air sungai dan mengukur tingkat daya tampung beban pencemaran, tanpa kedua komponen ini niscaya daftar kerusakan sungai di Jawa Timur akan semakin panjang akibat tidak terkendalinya pembuangan limbah domestic dan industri di sungai, karena memang selama ini masyarakat masih menganggap sungai adalah tempat sampah.

 

Inisiatif insentif bagi masyarakat Hulu

Adanya regulasi yang mengatur kerjasama pengelolaan kawasan Catchmenth area di Kawasan Hulu DAS Brantas yang meliputi Kota Batu, Kabupaten Malang, Kabupaten Jombang, Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Tulungagung dengan Kawasan Hilir Brantas yang selama ini memanfaatkan air Kali Brantas sebagai bahan baku air minum seperti Kota Surabaya, Gresik dan Sidoarjo. Regulasi ini dapat juga mendesak sector privat/industri untuk menyalurkan CSR (Corporate Social Resposibility) untuk dana reboisasi hutan dan pengelolaan kawasan lindung. UU yang mengatur sewa hutan lindung sehingga memberikankesempatan masyarakat/institusi untuk menyewa dapat menjad ruang bagi masyarakat di hilir untuk mendapatkan konsensi pengelolaan hutan di kawasan hulu.

 Pemantauan Sungai Partisipatif dengan Indikator Biologi

Memasukkan parameter biologis dengan menggunakan makroinvertebrata benthos sebagai salah satu parameter kunci pemantauan kualitas air di Jawa Timur. Selama ini pemantauan kualitas air hanya dominasi kalangan perguruan tinggi dan Instansi Pemerintah pengelolah Lingkungan, karena parameter kunci pemantauan kualitas air seperti DO, BOD, COD dan TSS harus diukur menggunakan alat tertentu yang MAHAL, TERBATAS PEMILIK dan JUMLAHNYA sehingga tidak memungkinkan masyarakat untuk ikut serta melakukan pemantauan. Di Australia dan Kanada makroinvertebrata benthos telah dipakai sebagai parameter pemantauan kualitas air karena mempertimbangkan aspek validitas, akurasi, murah dan dapat dilakukan oleh banyak orang (yang telah dilatih). Pencemaran sungai yang terjadi di Indonesia dan Jawa Timur khususnya disebabkan oleh lemahnya system pemantauan kualitas air, Pemprop Jatim cenderung terlambat dalam mengantisipati terjadinya dampak pencemaran, ikan mati massal misalnya yang rutin terjadi setiap tahun tanpa adanya solusi. Sistem Pemantauan kualitas air hanya dilakukan oleh sedikit orang dan frekuensi waktu yang jarang. Dengan menggunakan makroinvertebrata benthos sebagai salah satu indicator maka pengawasan kesehatan sungai dapat dilakukan banyak komunitas/orang sehingga mitigasi dampak pencemaran dapat sedini mungkin direncanakan.

Leave a comment »

Mengentaskan Kali Surabaya dari Pencemaran

Kualitas Air Kali Brantas Menurun (Metropolis, 5/10). Indikatornya, kandungan oksigen terlarut (KOT) dalam air sepanjang tahun ini selalu di bawah standar peruntukannya.

KOT merupakan standar utama kualitas air sungai. Untuk Kali Brantas dan Kali Surabaya, KOT tidak boleh kurang dari 3,5 mg/l. Namun, Pantauan Perum Jasa Tirta menunjukkan KOT Kali Surabaya dan Kali Brantas pada 2008 adalah 0,04 mg/l. Padahal, 95 persen bahan baku PDAM yang menyuplai 400 ribu konsumen di Kota Surabaya berasal dari Kali Surabaya.

Sepuluh tahun terakhir, masyarakat Metropolis selalu disuguhi informasi tingginya tingkat pencemaran di Kali Brantas dan Kali Surabaya. Pada Oktober 2007, PDAM bahkan tidak dapat beroperasi selama 4 hari karena tingkat pencemaran menjadikan air sungai tidak layak dijadikan bahan baku air minum.

Tingginya tingkat pencemaran itu tidak lepas dari lemahnya mekanisme pengendalian dan pengawasan pencemaran air serta rendahnya komitmen industri untuk mengolah limbah cair sebelum dibuang ke sungai. Tidak berlebihan jika Budiharto Tasmo, anggota Komisi D DPRD Jatim, mendesak pemerintah meningkatkan upaya pengendalian Kali Surabaya (Metropolis, 5/10).

Namun, desakan itu terasa basi. Sebab, saat ini, telah terjadi kemajuan yang diusahakan oleh berbagai pihak untuk meningkatkan kualitas air Kali Surabaya. Komunitas kader lingkungan di Jambangan, misalnya, berhasil mengurangi volume sampah dengan menekan kebiasaan warga bantaran kali membuang sampah di Kali Surabaya. Selain itu, saat ini telah terbangun komitmen stakeholder Kali Surabaya untuk revitalisasi kualitas air Kali Surabaya. Penulis mencatat lima perubahan dalam rangka pengentasan Kali Surabaya dari pencemaran.

Pertama, meningkatnya komitmen masyarakat industri untuk mengolah limbah cair. Komitmen ini berdampak pada peningkatan kinerja instalasi pengolahan air limbah (IPAL) industri di sepanjang Kali Surabaya. Hasil kajian kinerja IPAL industri dan status mutu air kali pada paro tahun 2005-2006, yang dirilis pada 2007 oleh Bapedal Provinsi Jatim, menunjukkan peningkatan 64 persen ketaatan industri dalam pengolahan air limbah dan penurunan tingkat pelanggaran hingga 50 persen.

Hasil penilaian kinerja itu adalah salah satu indikasi kemauan pihak industri untuk terlibat dalam peningkatan kualitas air Kali Surabaya. Komitmen itu, rupanya, bukan hanya terjadi pada tingkat provinsi. Itu terlihat pada penilaian Proper (Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup) yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup pada 2007-2008 di lima industri penyumbang terbesar limbah Kali Surabaya (80 persen kontributor pencemar Kali Surabaya). Penilaian itu memperlihatkan, empat industri mengalami peningkatan peringkat dari industri kategori hitam (sengaja tidak melakukan pengelolaan lingkungan dan berpotensi mencemari lingkungan) menjadi kategori merah/biru (telah melakukan upaya pengelolaan lingkungan yang dipersyaratkan sesuai dengan ketentuan atau peraturan yang berlaku)

Kedua, berjalannya penegakan hukum bagi pencemar. Selama kurun 2002-2007, banyak dilakukan penegakan hukum bagi industri pencemar. Tercatat 50 kasus pencemaran pidana lingkungan telah disidik oleh Polda Jatim.

Umumnya, industri yang telah divonis bersalah memilih memperbaiki IPAL mereka daripada menghadapi upaya penegakan hukum yang lama dan memerlukan biaya eksternal tinggi. Publikasi media massa tentang pelanggaran yang dilakukan industri juga membuat kalangan industri khawatir brand image mereka di masyarakat menjadi buruk, terlebih industri perseroan terbuka yang tergabung dalam bursa efek.

Ketiga, adanya landasan hukum pengelolaan sungai. Pemprov Jatim bekerja sama dengan Perum Jasa Tirta 1 dan ITS Surabaya saat ini menghitung daya tampung beban pencemaran (DTBP) di Kali Surabaya. Dengan itu, kita akan mengetahui berapa besar volume dan karakter limbah cair yang boleh dibuang di Kali Surabaya. Hasil pengukuran itu akan digunakan sebagai dasar untuk menentukan kelas peruntukan dan pengelolaan air Kali Surabaya dalam bentuk pergub.

Keempat, munculnya ketegasan Pemprov Jatim dalam tata ruang Kali Surabaya. Salah satunya, rencana relokasi industri bagi industri di bantaran Kali Surabaya, yang telah ditetapkan dalam Perda Stren Kali tentang Penataan Sempadan Sungai Kali Surabaya dan Kali Wonokromo. Perda itu memberikan tenggang waktu dua tahun bagi industri yang berdiri dalam jarak 50 meter dari bibir sungai (khususnya di wilayah Kota Surabaya) untuk membongkar bangunannya. Bila perda ini dilaksanakan, akan terjadi peningkatan kualitas air Kali Surabaya.

Kelima, lahirnya landasan hukum ulama. MUI (Majelis Ulama Indonesia) Jawa Timur telah mengeluarkan fatwa haram bagi kegiatan manusia yang membuang limbah industri dan limbah domestik di atas Kali Surabaya. Masyarakat yang tinggal di Sepanjang Kali Surabaya adalah komunitas yang paternalistik, memiliki kepatuhan kepada tokoh masyarakat atau ulama. Lahirnya fatwa itu diharapkan dapat mereduksi volume limbah domestik.

Fatwa MUI itu juga mendesak Pemprov Jatim menegakkan hukum bagi pencemar. Sebagai konsekuensi fatwa MUI Jatim tersebut, Pemprov Jatim harus menyediakan sarana sanitasi bagi warga yang tinggal di bantaran Kali Surabaya dan tidak memiliki sarana MCK. Itu sejalan dengan kewajiban penyediaan sarana sanitasi bagi masyarakat yang diatur dalam PP 82/2001 tentang pengendalian pencemaran air.

Dengan lima perubahan tersebut, anggota Komisi D DPRD Jatim seharusnya bisa berbuat lebih baik daripada sekadar mendesak pemerintah mengawasi limbah. DPRD harus mengawasi kinerja instansi Pemprov Jatim dalam mengendalikan pencemaran di Kali Brantas. Misalnya Bapedal Jatim, Dinas Pengairan, dan Perum Jasa Tirta 1 Malang. Sebab, sering kita sering lihat kasus pencemaran berlarut-larut karena ketidaksinkronan antara ketiga instansi ini. Masih ada waktu untuk mengentaskan Kali Surabaya dari pencemaran. (soe)
 (tulisan ini diunduh dari http://www.jawapos.com/sabtu.18.Oktober.2008)

Leave a comment »

Prigi Arisandi : Mendidik Para Detektif Kali Surabaya

training detektif Kali Surabaya generasi keenam

training detektif Kali Surabaya generasi keenam

Mandi di sungai itu sebuah hal yang menarik dan mahal. Bagi saya dulu 15 tahun yang lalu, mandi di sungai merupakan hal yang biasa dan keharusan. Tapi sekarang bagi anak2 untuk bisa mandi di air bebas itu mahal karena disini airnya sudah kotor dan tercemar dan sudah tidak layak.

Saudara, itulah jawaban Prigi Arisandi, direktur eksekutif LSM Ecoton, sebuah lembaga yang bergerak di bidang pemeliharaan lingkungan air, tentang mengapa pada awalnya ia secara pribadi tergerak untuk menciptakan program yang melibatkan anak-anak untuk memantau dan menjaga kelestarian sungai.

Bagi Prigi, kenikmatan mandi di sungai yang tidak bisa dirasakan oleh anak-anak di masa kini, merupakan sebuah ketidakadilan. Sungai yang dulu jernih kini sudah berubah fungsi menjadi tempat pembuangan limbah cair, sehingga kotor dan tercemar. Ini adalah sebuah kesalahan pengelolaan dari lembaga-lembaga yang terkait, dan menurutnya hal ini harus diluruskan. Itu lah alasan mengapa Prigi Arisandi dan teman-teman dari Ecoton akhirnya merintis program Detektif Kali Surabaya.

Ide Detektif Kali Surabaya ini diawali karena anak merupakan korban atau makhluk yang paling rentan terhadap pencemaran yang terjadi di Kali Surabaya. Kami ini ada di Kali Surabaya dimana Kali Surabaya ini menjadi tempat pembuangan limbah bagi 800 industri di sepanjang Kali Surabaya. Industri ini telah memberikan efek yang sangat mengkhawatirkan karena air Kali Surabaya yang menjadi bahan baku air minum bagi 2 juta orang Surabaya ini juga tercemar oleh Merkuri dan zat-zat kimia lainnya.

Pencemaran ini, -dari data yang ada- menurut Prigi Arisandi, telah menimbulkan dampak yang serius. 80% anak-anak yang tinggal di sepanjang Kali Surabaya mengalami gejala pelambatan penangkapan dalam belajar.
Penelitian lain menunjukkan, bahwa kurang lebih 60% anak-anak usia 0 hingga 18 tahun yang menderita kanker, tinggal di sepanjang Sungai Brantas dan kali Surabaya. Hal ini membuktikan, bahwa pencemaran Kali Surabaya membawa dampak yang serius pada anak-anak –terutama mereka yang dalam masa pertumbuhan-.

Sehingga anak2 juga harus ikut serta mulai sekarang untuk menjaga lingkungannya, karena lingkungan yang ke depan itu adalah lingkungan yang mereka tinggali. Jadi sejak awal mereka harus ikut berperan aktif dalam memberikan keputusan atau memberikan solusi atau ikut serta dalam pengelolaan lingkungan untuk menghindari pencemaran yang lebih parah ke depan.

Saudara, Program Detektif Kali Surabaya ini dimulai sejak tahun 2003, melibatkan 7 sekolah di sepanjang Kali Surabaya, yang meliputi wilayah Mojokerto, Sidoarjo, Gresik dan Surabaya. Sampai 4 tahun berjalan, program ini sudah berhasil mengajak 24 sekolah untuk terlibat aktif dalam kegiatan pemantauan kualitas lingkungan di Kali Surabaya. Jumlah anak-anak yang berpartisipasi juga sudah mencapai 2000 orang, satu pencapaian yang dapat dikatakan cukup berhasil.

Bagaimanakah cara Prigi Arisandi mengajak anak-anak ini untuk menjadi detektif kali?

Detektif Lingkungan ini adalah sebuah training dengan pendekatan child to child, ke anak selama 6 bulan. Jadi selama 6 bulan ini kita merekrut 30 orang anak dari 10 sekolah, dan ini selalu 10 sekolah yang lokasi 10 sekolah ini berbeda dari hulu ke hilir. Jadi mewakili 3 lokasi yang berbeda, kawasan hulu, tengah dan hilir. Dari 10 ini nantinya kita akan melakukan training untuk melihat di lokasi yang terjadi pencemaran di daerah hilir dan lokasi yang menjadi sumber mata air Kali Surabaya di daerah Trawas. Kemudian mereka akan memberikan ekspresi yang mereka lihat, atau mereka melakukan apresiasi berupa hasil investigasi berupa poster, reportase, foto yang mereka diskusikan.

Dari hasil pantauan itulah, selama 3 hari selanjutnya, anak-anak itu dilibatkan dalam sebuah bengkel kerja, dimana dalam bengkel kerja ini, mereka membuat rencana dimana mereka akan melakukan pemantauan dan laporan di lokasi dimana mereka tinggal.

Prigi sengaja membagi anak-anak ini ke dalam 3 kelompok, berdasarkan lokasi tempat tinggal mereka. Anak-anak yang tinggal di hulu yang airnya masih jernih akan menceritakan, jika di wilayahnya masih banyak keanekaragaman hayati yang mereka jumpai, seperti serangga dan mahluk invertebrate lainnya. Termasuk juga tumbuh-tumbuhan sungai. Ini sangat kontras dengan anak-anak yang tinggal di daerah hilir, dimana di wilayah tersebut, air sungainya sudah tercemar.

Dari hasil berbagi pengalaman itu, kemudian, anak-anak tersebut lalu membuat sebuah rencana untuk melakukan perubahan yang positif demi kelangsungan hidup Kali Surabaya.

Anak2 inilah yang nanti akan membuat perubahan. Dari hasil investigasi mereka, mereka melaporkan pada walikota, bupati, DPRD, guru2 mereka dan terpenting, mereka aktif melaporkan ini di media massa. Sehingga beberapa kali teman2 ini mendapat tanggapan dari pihak eksekutif atau pemerintah kota, bahkan sempat Ketua DPRD melakukan hearing dengan teman2 dalam isu ini, dan akhirnya mereka membuat sebuah riset penelitian di Kali Surabaya.

Program yang dirintis Prigi Arisandi dan teman-teman dari Ecoton ini ternyata mendapat sambutan hangat dari anak-anak dan juga orang tua serta guru mereka di sekolah. Dari pelibatan anak-anak ini menjadi detektif, Prigi menceritakan, sudah banyak hasil yang bisa dirasakan.

Banyak perubahan yang telah kita buat yaitu beberapa pengelolaan yang lebih partisipatif di beberapa daerah kawasan industri di Sidorejo, di situ sudah ada terbentuk komunitas masyarakat yang menjadikan Kali Tengah yang di situ ada anak yang dilibatkan dalam hal pemantauan. Kemudian di tingkatan sekolah, beberapa sekolah sudah membuat kelompok studi pemerhati sungai, waterwatch untuk kawasan Kali Surabaya

Beberapa anak pun telah membuat buku panduan tentang tumbuhan obat yang dapat ditemukan di Kali Surabaya, termasuk juga panduan tentang serangga dan mahluk invertebrate yang masih ditemukan di Kali tersebut.

Dan yang penting tanggal 29 Juli 2007 akan digelar konferensi anak Kali Surabaya, disitu berkumpul semua anak yang telah membuat karya dan membuat catatan reportase yang nanti akan dipresentasikan dan nanti akan mengundang gubernur dan walikota yang ada di sepanjang Kali Surabaya untuk mendengarkan dan berbagi pengalaman bagaimana hasil reportase dan apresiasi anak terhadap kondisi lingkungan Kali Surabaya yang ada sekarang.

Prigi Arisandi, yang merintis program Detektif Kali Surabaya, yang mengajak anak-anak untuk turut serta mengawasi dan memelihara kelestarian Kali Surabaya.

Saudara, selama 4 tahun terakhir bekerja bersama anak-anak, Prigi mendapati bahwa mereka sangat kritis dan memiliki ide-ide segar yang sangat mungkin untuk diterapkan dan diwujudkan.

Anak2 kita ini sebenarnya lebih segar, lebih banyak memiliki solusi2 alternatif yang masuk akal dibanding program2 pemerintah yang menghabiskan banyak uang. Banyak sekali pemikiran2 anak yang cerdas, selama ini memang tidak ada forum atau wadah yang menyalurkan pemikiran anak ini. Selama ini pendidikan sekolah yang diberikan ke anak ini sangat mengkungkung mereka bahkan di program ini sebenarnya bisa melepaskan itu, jadi melepaskan potensi2 pemikiran yang lebih segar dan cerdas. Kita jadi lebih tau potensi anak dari program pendidikan lingkungan ini.

Prigi Arisandi menceritakan, saat ini sudah diadakan sebuah program rutin untuk membersihkan dan mempercantik WC Umum yang ada di sepanjang Kali Surabaya. Bahkan salah satu sekolah mengadopsi satu kampung yang ada di tepian sungai untuk memperbaiki WC umum, dan tempat pembuangan sampah, dengan harapan, dengan WC yang bersih dan tempat pembuangan sampah yang tertata rapi maka masyarakat desa tersebut lebih memilih untuk menggunakan sarana tersebut, daripada membuang limbahnya di sungai.

Selama ini orang lebih suka membuang hajatnya di sungai langsung, tapi kalau diberi sentuhan warna pink, diberi hiasan, WC itu akan lebih menarik dan masyarakat lebih suka untuk memakai jamban yang dibersihkan oleh anak2 ini.

Selain itu, anak-anak tersebut juga mulai mengeksplorasi tumbuhan obat yang ada di Kali Surabaya, yang memang sejak dulu sudah dimanfaatkan oleh masyarakat yang ada di sekitarnya. Tanaman obat yang tumbuh di sungai itu memiliki keterikatan langsung dengan masyarakat di sekelilingnya, dan anak-anak itu memiliki ide untuk memperbaharui dan melestarikannya.

Semua solusi ini, menurut Prigi Arisandi, berawal dari pemikiran yang sederhana, “Tak Kenal maka Tak sayang”

Menurut mereka, mungkin saja orang2 ini tidak sayang dengan sungai karena tidak kenal. Jadi menurut mereka masyarakat yang tinggal di bantaran Kali Surabaya itu tidak mencintai kali tersebut karena tidak kenal potensi apa yang ada di Kali Surabaya itu. Oleh karena itu, setengah tahun ini teman2 di kurang lebih 6 sekolah ini akan mengeksplor potensi apa yang ada di Kali Surabaya dan nanti di Bulan Juli akan diumumkan, jangan dilukai Kali Surabaya, karena kali Surabaya itu menyimpan potensi penting bagi manusia. Kalau kita merusak sungai sama saja dengan merusak kehidupan ke depan, dan anak2 itu yang kena dampaknya.

Saudara, meskipun sudah berhasil mengumpulkan lebih dari 2000an anak dan mengajak serta 24 sekolah di wilayah Mojokerto, Sidoarjo, Gresik dan Surabaya, namun Prigi Arisandi merasa kesemuanya ini baru langkah awal. Ke depannya akan ada rencana yang lebih menyeluruh untuk menyelamatkan Kali Surabaya.

Selama kurang lebih 4 tahun ini kita hanya berfokus pada 41 kilometer Kali Surabaya, padahal Kali Surabaya ini adalah sebuah kesatuan DAS Brantas yang panjangnya 400 kilometer yang meliputi 14 kota kabupaten, dan ini memang seharusnya menjadi satu kesatuan ekosistem yang menjadi satu roh yang selama ini memang kita masih fokus di Kali Surabaya. Ke depan kita akan lebih melebarkan lagi ke kawasan Brantas yang meliputi 14 kota kabupaten.

Memperjuangkan kelestarian lingkungan ditengah pelbagai kepentingan pembangunan, ekonomi dan industrialisasi, merupakan hal yang sulit dan berat, namun harus dijalankan. Banyak pihak yang pesimis apakah program penyelamatan lingkungan seperti yang dilakukan Prigi Arisandi dan teman-temannya ini bisa berhasil, tapi menurut Prigi, kita tak bisa diam saja, karena perusakan akan terus berlanjut. Harus ada upaya yang tetap dijalankan.

Sebenarnya kalau kita bicara lingkungan, banyak pengalaman di banyak negara, harus ada korban kematian ribuan orang baru kemudian masyarakat sadar. Harapan kami di Surabaya tidak seperti itu, harapan kami perubahan itu terjadi secara sadar dan sepertinya juga lama, perlu perjuangan dan kesabaran yang tinggi untuk bisa meraih cita2 ini.

Prigi Arisandi, dari Ecoton, perintis program Detektif Kali Surabaya, program penyelamatan lingkungan yang melibatkan anak-anak untuk mengawasi dan menjaga kelestarian lingkungan air.

+++

Saudara, demikianlah Inspirasi kali ini. Semoga profil yang kami sajikan tadi dapat memberikan inspirasi kepada anda, bahwa sekecil apa pun usaha yang anda lakukan, bisa memiliki dampak yang besar bahkan bermanfaat bagi orang yang ada di sekitar anda.

Sekian Inspirasi.
(efika @ mediacorp.com.sg)

Leave a comment »

Adopsi Kali Surabaya

Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ECOTON) Berinisiatif menjalankan program ADOPSI KALI SURABAYA karena tingginya tingkat pencemaran air Kali Surabaya yang menjadi 95% bahan baku PDAM kota Surabaya. Wilayah Kali Surabaya mencakup Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Gresik, Kabupaten Sidoarjo dan Kota Surabaya sepanjang 42 Km dari Pintu air Mlirip Mojokerto hingga Pintu Air Jagir Wonokromo.

Dari kajian yang kami lakukan pada tingkat Pencemaran Air Kali Surabaya,  menyimpulkan bahwa

A.      Kali Surabaya mengalami kelebihan beban pencemaran, sehingga melebihi daya tampung Kali Surabaya, sehingga meskipun volume limbah yang dibuang dikali Surabaya dikurangi 50% dari volume yang ada sekarang kualitas air Kali Surabaya masih belum memenuhi standar peruntukkannya. Saat ini setiap hari 74 ton BOD dibuang di Kali Surabaya.

B.      Tingginya tingkat pencemaran Logam berat Merkuri di Kali Surabaya,  pada beberapa lokasi  di Kali Surabaya tingkat pencemaran Merkuri menunjukkan 0,09 mg/L atau 90 Kali Lipat dari standar ketentuan tentang peruntukkan kelas air sebagai bahan baku air minum sebesar 0,001 mg/L.

C.     Tingginya tingkat kontaminasi bakteri E-Coli , Bakteri E-Coli umumnya berasal dari kotoran manusia. Bakteri E-Coli di Karang Pilang dan Ngagel/jagir mencapai 64000 sel bakteri/100 ml contoh air, sedangkan di intake Kali Pelayaran E-Coli di air mencapai 20000 sel bakteri/100 ml contoh air, Padahal sebagai bahan baku air minum jumlah E-Coli dalam air tidak boleh melebihi 1000 sel bakteri/100 ml contoh air

Sumber pencemaran di Kali Surabaya  berasal dari pemukiman dan industri yang berada di Bantaran Kali Surabaya dan Daerah Aliran Sungai Surabaya.

Bangunan-bangunan seperti tempat usaha, tempat tinggal, pabrik dan mess karyawan yang ada umumnya berdiri diatas lahan sempadan  kali yang seharusnya berfungsi sebagai kawasan lindung sebagaimana diatur dalam Kep Gub 134/1997 tentang peruntukkan tanah pada daerah sempadan sungai Surabaya yang melarang berdirinya bangunan diatas tanah bantaran, sebagaimana diatur dalam pasal 5 :

Pada daerah sempadan sungai dilarang :

(b). Mendirikan bangunan permanen untuk hunian atau tempat usaha.

Dan mengacu pada perlindungan kawasan sempadan sebagai kawasan lindung yang telah diatur dalam UU 41/1999, PP 47/1999, Keppres 32/1990, (kota: PP 63/2002, & Permendagri 1/2007)

KEKUATAN DAN EFEKTIVITAS ADOPSI BANTARAN KALI SURABAYA

Menggunakan pendekatan Unik

          School Innitiative to save Biodiversity, Penyelamatan keanekaragaman hayati dan fungsi ekologis riparian oleh Sekolah-sekolah (SMP-SMA) di Kawasan DAS melalui penguatan kapasitas sekolah dalam melakukan penelitian dan mengemasnya menjadi media informasi dan pendidikan

          Children can makes Different,Program ini didesain untuk mudah dilakukan oleh siapa saja dan memberikan kesempatan utama kepada Anak/pelajar dapat melakukan perubahan pada lingkungannya,

          Relawan Kali Brantas, Dalam proses penguatan kapasitas sekolah Relawan yang terdiri dari mahasiswa pendamping  berperan sebagai motivator yang  merangsan timbulnya interaksi intensif dan mekanisme konsultasi/sharing informasi berkala antara Sekolah, perguruan tinggi, pemerintah, BUMN, komunitas masyarakat sungai dan jurnalis sekaligus sebagai sarana monitoring dan evaluasi

          Multistakeholder, melibatkan beragam stakeholder : Dukungan Pemerintah (legislative dan executive) sebagai legal status program ini, dukungan perguruan tinggi, assosiasi profesi dan LSM dalam capacity building, dukungan masyarakat bantaran sungai, dan industry.

(i)          Melibatkan multistakeholder dan memberikan keuntungan bagi stakeholder

          Komunitas /masyarakat sekitar DAS, Children can makes Different,Program ini didesain untuk mudah dilakukan oleh siapa saja dan memberikan kesempatan utama kepada Anak/pelajar dapat melakukan perubahan pada lingkungannya, sehingga akan memunculkan pesan Anak-anak saja mampu melakukan kenapa orang dewasa tidak?

          Sekolah,  Domino Effect,program ini memiliki fungsi ganda,

a. pemanfaatan bantaran kali sebagai Media belajar dan laboratorium sekolah, saat ini di Kabupaten Gresik dan Kota Surabaya topic lingkungan hidup sudah masuk dalam kurikulum sebagai mata pelajaran monolithic maupun terintegrasi dalam mata pelajaran lainnya, selain itu pemerintah juga melaksanakan program adiwiyata yang menuntut sekolah memiliki misi untuk ikut melakukan upaya-upaya pengelolaan lingkungan dan berusaha untuk menjadi solusi bagi masalah lingkungan disekitar sekolah, program ini tentu akan menjadi menarik minat sekolah untuk mengimplementasikannya.

b. Program adopsi Sungai secara langsung akan memberi manfaat terjaganya bantaran kali dari pemanfaatan non-konservasi seperti menjadi tempat pembuangan sampah atau bangunan.

c. membangun brand image sekolah/peluang menjadi sekolah percontohan

d. media promosi bagi sekolah

          Pemerintah, Monitoring pemanfaatan bantaran,  selama ini Pemerintah merasa kesulitan dalam melakukan pengawasan pemanfaatan bantaran. Dengan program ini akan terbangun mekanisme pelaporan apabila terjadi pelanggaran pemanfaatan bantaran.

          Perguruan tinggi, tempat implementasi ilmu pengetahuan, wahana riset, implementasi tridarma perguruan tinggi

          Journalis, jaringan multistakeholder, mendapatkan gudang berita dan narasumber lingkungan

          Komunitas, menerima transfer pengetahuan dan dengan terjaganya fungsi ekologis bantaran maka membawa dampak terjaganya kualitas lingkungan tempat masyarakat tinggal

(ii)         Implementatif dan berkelanjutan

Simbiose mutualisme

Terbangunnya partnership antara Pemerintah dengan stakeholderlainnya terutama sekolah dan komunitas untuk mengamankan fungsi ekologis bantaran sungai sedangkan sekolah membutuhkan bantaran untuk media pendidikan lingkungan

Suistainable Network

Sunrise house Forum, sebagai jaringan antara stakeholder yang memiliki agenda pertemuan rutin setiap dua minggu yang berperan sebagai capacity builder dan sarana Monitoring evaluasi dan forum ini akan terus eksis meskipun program berakhir

Suistainable Support

Di Indonesia sedang dilakukan implementasi CSR, awalnya baru industry Multinasional yang melakukannya dan saat ini banyak industry di Jawa Timur yang akan implementasi namun masih mencari bentuk CSR yang effektif, program adopsi bisa menjadi pilihan utama CSR di Jawa Timur

Legal Support

Program ini dilengkapi dengan MoU dan sertifikat pihak pelaksana oleh pemerintah.

 

(iii)       6 Nilai manfaat Program Adopsi

Open Mind, Membuka mata semua pihak tentang potensi Keanekaragaman hayati, sehingga setelah mengetahui dan mengenal akan muncul spirit untuk mencintai. Menjaga bantaran Sungai selain sudah berpartisipasi dalam menyelamatkan keanekaragaman hayati juga meningkatkan pengetahuan kita tentang keanekaragaman hayati eksosistem sungai.

Equality, jembatan sharing informasi/mekanisme knowledge transfer yang efektif antara Stakeholder

Common responsibility, Menjaga keanekaragaman hayati sumberdaya alam menjadi kewajiban bersama melalui mekanisme monitoring partisipatif.

River as a Life laboratory, Sungai bisa menjadi sarana pembelajaran yang kongkret, aplikatif, terjangkau dan membawa manfaat bagi lingkungan sungai.

Nature Guardian School,  sekolah dapat berperan sebagai penyelamat keanekaragaman hayati dan pelindung sumberdaya alam.

Relawan’s  power, tersusunya informasi keanekaragaman hayati sungai dan Panduan-panduan penyelamatan sungai yang disusun oleh pelajar dan mahasiswa pendamping. Yang tentunya sederhana dan mudah dimengerti seperti cahaya matahari pagi yang mudah dirasakan manfaatnya oleh manusia dan sangat mudah bagi kita untuk menerimanya.

(iv)       Memotivasi

                    1.  Merangsang orang untuk secara bijaksana memanfaatkan bantaran sungai

                    2. Meningkatkan pemanfaatan bantaran secara ramah/organic (Budidaya tumbuhan obat, ,                                           3. sayuran, tanaman langka, tanaman buah, composting dan ekowisata.

                    4. Metode belajar dialam

 

pelajar SMPN 1 Wringinanom inventarisasi tumbuhan obat bantaran kali surabaya

pelajar SMPN 1 Wringinanom inventarisasi tumbuhan obat bantaran kali surabaya

 

 

Leave a comment »

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Comments (1) »