Archive for Oktober, 2009

Ikan-ikan Pun Bergelimpangan…

Ratusan –mungkin juga lebih dari seribu—warga Surabaya panen ikan, Minggu (25/4). Kalimas mulai dari Gunungsari hingga Keputran dipenuhi warga yang menceburkan diri ke kali. Bukan hanya warga yang berumah di tepi sungai, para pengendara sepeda motor yang kebetulan melintas pun berhenti. Mereka ikut larut dalam kemeriahan itu.

Dengan alat seadanya, sebagian memutus ranting pepohonan di tepi sungai, mereka berdiri di tepi sungai. Mata mereka waspada. Kala ada ikan yang terapung setengah sadar, sekelebat “pentungan“ mereka kibaskan.

Sebagian warga yang lain lebih total. Mereka nyemplung ke sungai. Sebagian lagi berbekal serok dan jala. Kelompok ini mendapat hasil lebih banyak.

“Ini pasti kena limbah,” kata Yudi.

Pria ini begitu bersemangat menangkapi ikan mabuk di Kalimas Jl. Raya Ngagel.

“Airnya saja pahit. Lebih pahit dari air kolam yang mengandung kaporit,” lanjutnya.

Menurut Yudi yang sering menjala ikan di Kalimas, fenomena ikan mabuk bukan sekali itu saja. “Sering saya lihat yang seperti ini. Tapi pemerintah tampaknya tidak pernah peduli. Mereka biarkan sungai tercemar. Yang makan ikan beginian paling orang kecil. Kalau ini mengandung racun, ya orang kecillah yang lebih dulu mati,“ kata pria asal Sepanjang ini.

Menurut Ptigi Arisandi dari Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecological Observation and Wetlands Conservation, Ecoton), kecurigaan masyarakat seperti dikatakan Yudi tidak aneh. Sebab,s elama ini limbah pabrik memang sering dibuang seenaknya ke sungai. Namun dalam peristiwa kemarin, Ecoton tidak menemukan tanda-tanda ikan mati karena limbah.

“Kami ukur, total dissolved solid (TDS, total padatan terlarut) rendah, hanya 200 ppm. Padahal, biasanya kalau sungai tercemar limbah, DTS-nya tinggi, bisa di atas 1000 ppm,” kata Prigi, Senin (26/10).

Meski demikian, Ecoton menemukan data lain. Dissolved oxygen atau oksigen terlarut dalam air sangat rendah, hanya 0,5 mg/liter. Padahal, normalnya, oksigen dalam air mencapai 4 mg/liter.

“Sangat mungkin ikan-ikan itu mati karena rendahnya kadar oksigen tersebut,” kata Prigi.

Mengapa kadar oksigen di Kalimas sangat rendah?

Analisis sebagian pihak, ini akibat sampingan dari penggelontoran Kalimas di kawasan Gunungsari dengan air dalam jumlah besar. Tujuannya, menggelontor eceng gondok hingga ke laut.

“Penggelontoran air dalam jumlah besar membuat mudal. Partikel dasar sungai terangkat ke atas, ini yang menyebabkan kandungan oksigen dalam air menjadi rendah,“ kata Prigi. “Mestinya ada manajemen yang lebih baik hingga upaya seperti penggelontoran tidak merusak habitat,“ lanjutnya.

Sementara Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Jatim, Dewi J. Putriatni mengatakan kepastikan penyebab banyaknya ikan mabuk di Kalimas, Minggu (25/10) lalu belum bisa memastikan. Sebab, untuk mengetahui penyebab yang sebenarnya harus dilakukan penelitian lebih dahulu.

”Kami tidak bisa langsung memastikan penyebabnya dengan menunjuk salah satu industri yang telah membuang limbah. Penyebabnya harus dicari dan dibuktikan melalui penelitian,” kata Dewi, Senin (26/10).

Dewi menjelaskan menurunkan kadar oksigen di dalam air, bisa karena maintenance kali dengan cara mengeruk sedimen Kali Surabaya. Dengan dikeruknya sedimen tersebut, akan menyebabkan air kali menjadi keruh dan berkurangnya kadar oksigen dalam air. Selain akibat pengerukan, berkurangnya oksigen juga bisa terjadi karena adanya perusahaan yang mendadak membuang limbah ke sungai dalam jumlah besar hingga menyebabkan terjadinya penurunan kadar oksigen.

”Untuk itu, kami tidak boleh asal menuduh tanpa melalui proses penelitian lebih dahulu,” katanya.

Namun, sambung Dewi, kejadian ikan mabuk di Kalimas sudah sering terjadi. Kemungkinan penyebabnya antara pengerkan dan pembuangan limbah dalam jumlah besar.

”Biasanya bila ada ikan yang mati dalam jumlah besar justru tidak berbahaya karena ikan-ikan itu mati akibat kurangnya kadar oksigen,” katanya.

Sebaliknya, bila ada zat yang berbahaya, maka ikan tersebut tidak akan langsung dan dalam jumlah yang banyak. “Matinya alama dan sedikit-sedikit,” katanya. spd,

Leave a comment »

4 GAGASAN UNTUK BRANTAS

Mata Pelajaran Sungai

Ribuan orang mati akibat Minamata disease di Kota Minamata Propinsi Kumamoto telah membuka mata Pemerintah Jepang untuk melakukan diet Polusi dengan mengeluarkan regulasi pengketatan pembuangan limbah cair ke sungai, kegiatan ini diikuti dengan rehabilitasi kualitas air di sungai-sungai penting, dalam waktu 20 tahun beberapa sungai sudah pulih kembali dan mendukung kehidupan manusia seperti perikanan dan bahan baku air minum. Dibalik itu ternyata pemerintah juga menerapkan pelajaran tentang Polusi di Sekolah-sekolah Dasar dan Menengah, tujuannya untuk mengenalkan lebih dini tentang masalah lingkungan dan pencemaran akibat aktivitas manusia.

DAS Brantas adalah DAS Vital bagi Jatim karena 60% penduduk Jatim tinggal di DAS Brantas, kebudayaan dan peradaban yang dilahirkan oleh kerajaan-kerajaan besar Seperti Kadiri, Singosari dan Mojopahit dibangun di DAS Brantas. Air Adalah Kehidupan Sungai adalah peradaban, beradapnya sebuah bangsa dapat dilihat dari system pengelolaan  sungainya. Sebagai sebuah bangsa yang ingin mandiri dan sadar betul akan potensi sumberdaya alamnya maka memberi pelajaran tentang sungai pada anak-anak bangsa adalah sebuah keharusan. Mata Pelajaran tentang Sungai adalah bidang studi yang monolitik yang mengenalkan pada anak didik potensi sungai dan pengelolaan yang baik agar sungai dapat memberikan kemaslahatan pada umat manusia.

Kita tidak perlu khawatir kalo materi sungai sangat terbatas sebab apabila kita bicara sungai akan sangat terkait dengan air didalamnya tidak bias tidak kita akan membahas masalah siklus air, bagaimana hutan bekerja menjaga keberlansungan air, pengolahan sampah dibutuhkan agar sampah tidak mengapung di sungai, perilaku green life style masyarakat urban menjadi bagian dari mata pelajaran sungai karena tingginya konsumsi masyarakat urban berkorelasi dengan laju kerusakan hutan di hulu.

Orang tidak akan mau memikirkan sungai karena sejak kecil orang tidak mendapatkan pelajaran tentang sungai, kita baru kenal dengan sungai saat kita membaca atau mendengar berita tentang banjir banding, pencemaran air sungai atau pembuangan Lumpur lapindo ke kali Porong  sehingga sering kita terlambat untuk mengetahui akibat buruk kegiatan kita pada sungai.

Badan Pengelolaan DAS Brantas

Pemerintah Propinsi Jatim harus memfasilitasi lahirnya dan implementasi Konsorsium Brantas yang terdiri dari 13 Bupati/Walikota di DAS Brantas untuk menyusun peruntukan dan pengelolaan Sungai Brantas dalam menjaga kelestarian dan kesinambungan fungsi ekologis dan tekanan aktivitas manusia yang menyebabkan degradasi kualitas ekologis Sungai Brantas.

Salah satu fungsi penting Konsorsium ini adalah solusi pencemaran Sungai Brantas yang umumnya dirasakan dampaknya oleh daerah Hilir yang sumberpencemarannya berasal dari wilayah Hulu.  Penataan ruang dan peruntukkan sungai.

Pekerjaan besar untuk menyelamatkan sungai-sungai di Jawa Timur adalah menetapkan kembali kelas/peruntukkan air sungai dan mengukur tingkat daya tampung beban pencemaran, tanpa kedua komponen ini niscaya daftar kerusakan sungai di Jawa Timur akan semakin panjang akibat tidak terkendalinya pembuangan limbah domestic dan industri di sungai, karena memang selama ini masyarakat masih menganggap sungai adalah tempat sampah.

 

Inisiatif insentif bagi masyarakat Hulu

Adanya regulasi yang mengatur kerjasama pengelolaan kawasan Catchmenth area di Kawasan Hulu DAS Brantas yang meliputi Kota Batu, Kabupaten Malang, Kabupaten Jombang, Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Tulungagung dengan Kawasan Hilir Brantas yang selama ini memanfaatkan air Kali Brantas sebagai bahan baku air minum seperti Kota Surabaya, Gresik dan Sidoarjo. Regulasi ini dapat juga mendesak sector privat/industri untuk menyalurkan CSR (Corporate Social Resposibility) untuk dana reboisasi hutan dan pengelolaan kawasan lindung. UU yang mengatur sewa hutan lindung sehingga memberikankesempatan masyarakat/institusi untuk menyewa dapat menjad ruang bagi masyarakat di hilir untuk mendapatkan konsensi pengelolaan hutan di kawasan hulu.

 Pemantauan Sungai Partisipatif dengan Indikator Biologi

Memasukkan parameter biologis dengan menggunakan makroinvertebrata benthos sebagai salah satu parameter kunci pemantauan kualitas air di Jawa Timur. Selama ini pemantauan kualitas air hanya dominasi kalangan perguruan tinggi dan Instansi Pemerintah pengelolah Lingkungan, karena parameter kunci pemantauan kualitas air seperti DO, BOD, COD dan TSS harus diukur menggunakan alat tertentu yang MAHAL, TERBATAS PEMILIK dan JUMLAHNYA sehingga tidak memungkinkan masyarakat untuk ikut serta melakukan pemantauan. Di Australia dan Kanada makroinvertebrata benthos telah dipakai sebagai parameter pemantauan kualitas air karena mempertimbangkan aspek validitas, akurasi, murah dan dapat dilakukan oleh banyak orang (yang telah dilatih). Pencemaran sungai yang terjadi di Indonesia dan Jawa Timur khususnya disebabkan oleh lemahnya system pemantauan kualitas air, Pemprop Jatim cenderung terlambat dalam mengantisipati terjadinya dampak pencemaran, ikan mati massal misalnya yang rutin terjadi setiap tahun tanpa adanya solusi. Sistem Pemantauan kualitas air hanya dilakukan oleh sedikit orang dan frekuensi waktu yang jarang. Dengan menggunakan makroinvertebrata benthos sebagai salah satu indicator maka pengawasan kesehatan sungai dapat dilakukan banyak komunitas/orang sehingga mitigasi dampak pencemaran dapat sedini mungkin direncanakan.

Leave a comment »