Ikan-ikan Pun Bergelimpangan…

Ratusan –mungkin juga lebih dari seribu—warga Surabaya panen ikan, Minggu (25/4). Kalimas mulai dari Gunungsari hingga Keputran dipenuhi warga yang menceburkan diri ke kali. Bukan hanya warga yang berumah di tepi sungai, para pengendara sepeda motor yang kebetulan melintas pun berhenti. Mereka ikut larut dalam kemeriahan itu.

Dengan alat seadanya, sebagian memutus ranting pepohonan di tepi sungai, mereka berdiri di tepi sungai. Mata mereka waspada. Kala ada ikan yang terapung setengah sadar, sekelebat “pentungan“ mereka kibaskan.

Sebagian warga yang lain lebih total. Mereka nyemplung ke sungai. Sebagian lagi berbekal serok dan jala. Kelompok ini mendapat hasil lebih banyak.

“Ini pasti kena limbah,” kata Yudi.

Pria ini begitu bersemangat menangkapi ikan mabuk di Kalimas Jl. Raya Ngagel.

“Airnya saja pahit. Lebih pahit dari air kolam yang mengandung kaporit,” lanjutnya.

Menurut Yudi yang sering menjala ikan di Kalimas, fenomena ikan mabuk bukan sekali itu saja. “Sering saya lihat yang seperti ini. Tapi pemerintah tampaknya tidak pernah peduli. Mereka biarkan sungai tercemar. Yang makan ikan beginian paling orang kecil. Kalau ini mengandung racun, ya orang kecillah yang lebih dulu mati,“ kata pria asal Sepanjang ini.

Menurut Ptigi Arisandi dari Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecological Observation and Wetlands Conservation, Ecoton), kecurigaan masyarakat seperti dikatakan Yudi tidak aneh. Sebab,s elama ini limbah pabrik memang sering dibuang seenaknya ke sungai. Namun dalam peristiwa kemarin, Ecoton tidak menemukan tanda-tanda ikan mati karena limbah.

“Kami ukur, total dissolved solid (TDS, total padatan terlarut) rendah, hanya 200 ppm. Padahal, biasanya kalau sungai tercemar limbah, DTS-nya tinggi, bisa di atas 1000 ppm,” kata Prigi, Senin (26/10).

Meski demikian, Ecoton menemukan data lain. Dissolved oxygen atau oksigen terlarut dalam air sangat rendah, hanya 0,5 mg/liter. Padahal, normalnya, oksigen dalam air mencapai 4 mg/liter.

“Sangat mungkin ikan-ikan itu mati karena rendahnya kadar oksigen tersebut,” kata Prigi.

Mengapa kadar oksigen di Kalimas sangat rendah?

Analisis sebagian pihak, ini akibat sampingan dari penggelontoran Kalimas di kawasan Gunungsari dengan air dalam jumlah besar. Tujuannya, menggelontor eceng gondok hingga ke laut.

“Penggelontoran air dalam jumlah besar membuat mudal. Partikel dasar sungai terangkat ke atas, ini yang menyebabkan kandungan oksigen dalam air menjadi rendah,“ kata Prigi. “Mestinya ada manajemen yang lebih baik hingga upaya seperti penggelontoran tidak merusak habitat,“ lanjutnya.

Sementara Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Jatim, Dewi J. Putriatni mengatakan kepastikan penyebab banyaknya ikan mabuk di Kalimas, Minggu (25/10) lalu belum bisa memastikan. Sebab, untuk mengetahui penyebab yang sebenarnya harus dilakukan penelitian lebih dahulu.

”Kami tidak bisa langsung memastikan penyebabnya dengan menunjuk salah satu industri yang telah membuang limbah. Penyebabnya harus dicari dan dibuktikan melalui penelitian,” kata Dewi, Senin (26/10).

Dewi menjelaskan menurunkan kadar oksigen di dalam air, bisa karena maintenance kali dengan cara mengeruk sedimen Kali Surabaya. Dengan dikeruknya sedimen tersebut, akan menyebabkan air kali menjadi keruh dan berkurangnya kadar oksigen dalam air. Selain akibat pengerukan, berkurangnya oksigen juga bisa terjadi karena adanya perusahaan yang mendadak membuang limbah ke sungai dalam jumlah besar hingga menyebabkan terjadinya penurunan kadar oksigen.

”Untuk itu, kami tidak boleh asal menuduh tanpa melalui proses penelitian lebih dahulu,” katanya.

Namun, sambung Dewi, kejadian ikan mabuk di Kalimas sudah sering terjadi. Kemungkinan penyebabnya antara pengerkan dan pembuangan limbah dalam jumlah besar.

”Biasanya bila ada ikan yang mati dalam jumlah besar justru tidak berbahaya karena ikan-ikan itu mati akibat kurangnya kadar oksigen,” katanya.

Sebaliknya, bila ada zat yang berbahaya, maka ikan tersebut tidak akan langsung dan dalam jumlah yang banyak. “Matinya alama dan sedikit-sedikit,” katanya. spd,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: